ZAT PEMANIS ALAMI
PADA MAKANAN
Sukrosa
Sukrosa merupakan suatu disakarida yang
dibentuk dari monomer-monomernya yang berupa unit glukosa dan fruktosa, dengan rumus molekul C12H22O11.[1] Senyawa ini dikenal sebagai
sumber nutrisi serta dibentuk oleh tumbuhan, tidak oleh organisme lain seperti
hewan Penambahan sukrosa dalam media berfungsi sebagai sumber karbon.[1]Sukrosa atau gula dapur diperoleh
dari gulatebu atau gula beet.[1] Unit glukosa dan fruktosa
diikat oleh jembatan asetal oksigen dengan orientasi alpha.[1] Struktur ini mudah dikenali
karena mengandung enam cincin glukosa dan lima cincin fruktosa.[1]
Proses
fermentasi sukrosa melibatkan mikroorganisme yang dapat memperoleh energi dari
substrat sukrosa dengan melepaskan karbondioksidadan produk samping berupa
senyawaan alkohol.[2] Penggunaan ragi (yeast) ini
dalam proses fermentasi diduga merupakan proses tertua dalam bioteknologi dan
sering disebut dengan zymotechnology.[2] Sukrosa diproduksi sekitar 150
juta ton setiap
Struktur
α-D-glukopiranosil-(1→2)-β-D-fruktofuranosida
Pada sukrosa, glukosa dan fruktosa terhubung
melalui ikatan antara karbon pertama (C1) pada subunit glukosa dengan karbon
kedua (C2) milik fruktosa. Ikatan ini disebut dengan ikatan
glikosida
|
(2R,3R,4S,5S,6R)-2-[(2S,3S,4S,5R)-3,4-dihydroxy-2,5-bis(hydroxymethyl)oxolan-2-yl]oxy-6-(hydroxymethyl)oxane-3,4,5-triol
|
|
Nama lain[sembunyikan]
Gula; Sakarosa; α-D-glukopiranosil-(1→2)-β-D-fruktofuranosida;
β-D-fruktofuranosil-(2→1)-α-D-glukopiranosida; β-(2S,3S,4S,5R)-fruktofuranosil-α-(1R,2R,3S,4S,5R)-glucopyranoside;
α-(1R,2R,3S,4S,5R)-glukopiranosil-β-(2S,3S,4S,5R)-fruktofuranosida
|
|
Identifikasi
|
|
[57-50-1]
|
|
WN6500000
|
|
O1[C@H](CO)[C@@H](O)[C@H](O)[C@@H](O)[C@H]1O[C@@]2(O[C@@H]([C@@H](O)[C@@H]2O)CO)CO
|
|
1/C12H22O11/c13-1-4-6(16)8(18)9(19)11(21-4)23-12(3-15)10(20)7(17)5(2-14)22-12/h4-11,13-20H,1-3H2/t4-,5-,6-,7-,8+,9-,10+,11-,12+/m1/s1
|
|
Sifat
|
|
C12H22O11
|
|
342.30 g/mol
|
|
Penampilan
|
padatan putih
|
1.587 g/cm3, padat
|
|
186 °C decomp.
|
|
2000 g/L (25 °C)
|
|
−3.76
|
|
Struktur
|
|
P21
|
|
Bahaya
|
|
Indeks EU
|
not listed
|
Senyawa terkait
|
|
Senyawa terkait
|
|
Struktur α-D-glukopiranosil-(1→2)-β-D-fruktofuranosida
Pada sukrosa, glukosa dan fruktosa terhubung melalui
ikatan antara karbon pertama (C1) pada subunit glukosa dengan karbon kedua (C2)
milik fruktosa. Ikatan ini disebut dengan ikatan
glikosida.
Degradasi panas dan oksidatif
Kelarutan sukrosa dalam air berdasarkan temperatur tertentu
|
|
T (°C)
|
S (g/ml)
|
50
|
2.59
|
55
|
2.73
|
60
|
2.89
|
65
|
3.06
|
70
|
3.25
|
75
|
3.46
|
80
|
3.69
|
85
|
3.94
|
90
|
4.20
|
Seperti karbohidrat lainnya, sukrosa jika
terbakar akan menghasilkan karbon dioksida dan air. Contohnya, untuk
bahan bakar motor roket amatir, sukrosa digunakan sebagai bahan bakar dengan
dicampurkan bersama Sukrosa akan meleleh pada suhu 186 °C (367 °F)
dan membentuk karamel. dengan kalium nitrat untuk oksidatornya.[rujukan?]
48 KNO3 + 5 C12H22O11 →
24 K2CO3 + 24 N2 + 55 H2O
+ 36 CO2
Sukrosa dicampur dengan asam klorat, akan menghasilkan
karbon dioksida, air, dan asam klorida:
8 HClO3 + C12H22O11 →
11 H2O + 12 CO2 + 8 HCl
Sukrosa dapat didehidrasi dengan asam sulfat untuk membentuk padatan karbon murni berwarna hitam:
H2SO4(katalis) + C12H22O11 →
12 C + 11 H2O + panas dan H2O + SO3 sebagai
hasil panas
Hidrolisis
Hidrolisis akan memecah ikatan glikosida,
dan mengubah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. Meskipun begitu, proses
hidrolisis sukrosa berjalan amat lambat sehingga bisa memakan waktu
bertahun-tahun. Proses ini bisa dipercepat berlipat-lipat dengan adanya enzimsukrase.[4] Hidrolisis juga dapat dipercepat dengan
asam, misalnya dengan kalium
bitartrat atau jus lemon, keduanya asam lemah. Demikian juga,
keasaman lambung mengubah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa selama proses
pencernaan dalam tubuh.
Konsumsi Sukrosa Dalam Jumlah Tertentu
Seperti pada kasus formula protein hidrolisat parsial, penambahan sukrosa diperbolehkan dalam jumlah tertentu. Bagi ibu yang oleh petugas kesehatan dinyatakan mengalami indikasi medis sehingga tidak dapat memberikan ASI atau harus mencampurnya dengan susu formula, maka perlu memperhatikan kandungan susu formula.
Seperti pada kasus formula protein hidrolisat parsial, penambahan sukrosa diperbolehkan dalam jumlah tertentu. Bagi ibu yang oleh petugas kesehatan dinyatakan mengalami indikasi medis sehingga tidak dapat memberikan ASI atau harus mencampurnya dengan susu formula, maka perlu memperhatikan kandungan susu formula.
“Penting
diketahui orangtua, untuk menghindari sukrosa selama 6 bulan pertama,” ujar Dr.
Ahmad Suryawan SpA (K), Ketua Divisi Tumbuh Kembang Anak dan Remaja, Departemen
Ilmu Kesehatan Anak – RSUD Dr. Soetomo – FK Unair, Surabaya, dalam konferensi
pers yang diadakan oleh Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia di restoran KOI Kemang Jakarta dalam rangka Hari Kesehatan Nasional
2011.
“Sukrosa
yang dikenalkan sejak awal pada bayi akan mempengaruhi preferensi makanan, yang
dapat menyebabkan risiko gangguan kesehatan, baik jangka panjang seperti
peningkatan risiko obesitas maupun dampak jangka pendek seperti karies gigi”
tambah Dr. Inge Permadhi, MS, SpGK, Koordinator Pelayanan Masyarakat Departemen
Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
“Karena
itulah seorang ibu harus mengerti cara memilih susu formula dengan memahami
cara membaca komposisi bahan baku yang tercantum dalam label kemasan,” lanjut
Dr. Inge.
Studi
oleh Manella pada 2004 menunjukkan bahwa, ada periode sensitif pada masa bayi
dan anak dimana suka dan ketidaksukaan yang terbentuk pada masa tersebut akan mempengaruhi
pola makan saat dewasa. Hal ini menjadi pertimbangan penting pada penanganan
atau pencegahan kelebihan berat badan dan obesitas yang meningkat secara
dramatis di masa kanak-kanak dan remaja di banyak negara (AAP, 2003; Agostini,
2008).
Meningkatkan Resiko Karies Gigi
Sebuah studi oleh Beauchamp pada 1982 menunjukkan bahwa, paparan terhadap air gula atau rasa manis pada 6 bulan pertama kehidupan akan meningkatkan kecenderungan untuk menyukai air gula atau rasa manis.
Sebuah studi oleh Beauchamp pada 1982 menunjukkan bahwa, paparan terhadap air gula atau rasa manis pada 6 bulan pertama kehidupan akan meningkatkan kecenderungan untuk menyukai air gula atau rasa manis.
“Asupan
sukrosa dan kesukaan akan rasa manis tidak hanya meningkatkan risiko obesitas,
asupan makanan yang mengandung gula total yang tinggi juga akan mempengaruhi
kecukupan asupan mikronutrien. Bukti yang berkembang memperlihatkan bahwa
makanan yang ditambahkan dan tinggi kandungan gula totalnya berhubungan nyata
dengan asupan mikronutrien yang lebih rendah dan mungkin mempengaruhi
pertumbuhan anak,” jelas Dr. Ahmad Suryawan.
Konsumsi
sukrosa lebih awal (pada bayi) untuk jangka waktu lama akan meningkatkan risiko
karies. Temuan ini diperkuat oleh jurnal yang dipublikasi oleh Institute of
Medicine pada 2005 dan The American Academy of Pediatric Dentistry pada 2008.
“Karies
dapat dicegah dengan menghindari pemberian sukrosa pada makanan bayi, termasuk
pada susu formula bayi, dan menjaga kebersihan gigi dan mulut setiap kali anak
usai makan dan minum susu,” tutup kedua pakar tersebut. Dewi


Tidak ada komentar:
Posting Komentar